Senior Hajar Junior di Kelas, Diunggah di YouTube

Senior Hajar Junior di Kelas, Diunggah di YouTube - Dunia pendidikan di Kabupaten Mojokerto kembali diwarnai insiden kekerasan yang melibatkan pelajar. Penganiayaan oleh siswa senior terhadap juniornya yang berupa tendangan dan pukulan itu diunggah seseorang di YouTube.

Rekaman video yang menampilkan adegan kekerasan dua pelajar tersebut ditonton berbagai kalangan melalui internet. Setidaknya, hingga kemarin pukul 18.30, ada 370-an penjelajah dunia maya yang melihat rekaman itu.

Dalam rekaman gambar video tersebut, seorang pelajar SMKN 1 Jetis, Kabupaten Mojokerto, digebuki seniornya. Meski gambarnya diunggah dalam kondisi terbalik, hasil rekaman dengan menggunakan kamera handphone itu masih terlihat jelas. Termasuk rekaman suara yang berisi perbincangan dan tindakan kekerasan tersebut.

Link video itu diunggah sebulan lalu dengan judul ''Kekerasan Anak SMK 1 Jetis Mojokerto'' melalui akun bernama beny christ.



Dalam gambar berdurasi 1 menit 25 detik tersebut, terlihat dua pelajar di ruang kelas. Satu pelajar memakai seragam biru celana cream dan satu siswa lagi mengenakan seragam cokelat muda.

Siswa yang berseragam biru diduga sebagai pelaku. Dia terlihat menganiaya siswa berseragam cokelat muda yang diduga adik kelasnya. Pelaku memukuli korban lebih dari tiga kali di bagian wajah.

Korban juga ditendang sekitar tiga kali, yakni di bagian dada, wajah, dan punggung. Bahkan, tubuh korban dibanting ke lantai laiknya tontonan smackdown.

Tidak berhenti di situ. Pelaku yang berambut pendek dan berpostur lebih tinggi seolah-olah tidak menggubris rintihan korban yang meminta ampun. Padahal, seperti di gambar, korban berperawakan kurus dan tidak berani melawan.

Di tengah rekaman, pelaku melepas sepatu dan kembali menendangi korban. Bahkan, dia membangunkan korban yang terkapar di lantai, lalu membenturkan ke meja belajar.

Drama kekerasan yang dikenal sadis itu tidak sengaja dipergoki pelajar lain. Dalam gambar, pelaku mengancam pelajar di luar kelas dengan meminta mereka keluar. Di akhir rekaman video, pelaku menyeret korban ke luar kelas dengan menarik baju korban di bagian leher.

Sementara itu, korban terus merintih kesakitan dengan mengucap kalimat ampun beberapa kali. ''Ampun, Mas. Ampun, Mas,'' kata korban.

Pengambilan gambar kekerasan yang diduga terjadi sekitar empat bulan lalu itu tidak diketahui pelaku. Terdengar percakapan beberapa siswa di luar kelas yang secara diam-diam mengambil gambar kekerasan tersebut. Entah siapa yang berhasil mengabadikan tindakan berbau kriminalitas pelajar itu.

Namun, sesekali terdengar pelajar lain yang memberi aba-aba arah kamera dengan posisi terbalik, menyorot pelaku dan korban. Agar tidak ketahuan, sesekali pengambil gambar dan penunjuk gambar memperbincangkan lokasi rental PlayStation (PS).

Belum diketahui pasti identitas pelaku penganiayaan dan identitas korban. Namun, kuat dugaan penganiayaan itu dilakukan di tengah jam istirahat sekolah. Saat pelaku dan korban menuju pintu, terlihat beberapa pelajar yang duduk dan berdiri di depan ruang kelas.

Dugaan jika kekerasan tersebut dialami siswa SMKN 1 Jetis diketahui dari seragam yang dikenakan korban. Di lengan kiri tertempel badge sekolah warna biru, sedangkan di lengan kiri bertulisan Mojokerto.

Sementara itu, berdasar penelusuran koran ini di SMKN 1 Jetis, kabar tentang video penganiayaan yang beredar di YouTube tersebut sudah diketahui kalangan pelajar. La, seorang pelajar, menyatakan mengetahui video itu beberapa waktu lalu. Bahkan, dia menduga, pelaku penganiayaan dalam gambar tersebut adalah pelajar berinisial Hn, kelas XI. ''Cuma sekarang dia sudah pindah sekolah. Nggak tahu kenapa, katanya sih di-DO (drop out) sekolah,'' ujarnya.

Samsul Hadi, Wakasek Bidang Sarana Prasarana (Sarpras) SMKN 1 Jetis, membenarkan bahwa gambar dalam video yang diunggah di YouTube tersebut adalah siswa SMKN 1 Jetis. ''Iya memang SMKN sini (Jetis). Ya, memang kondisinya seperti itu, seperti yang sampean lihat,'' jelasnya.

Namun, guru mata pelajaran (mapel) otomotif itu menolak memberikan keterangan lebih jelas terkait dengan identitas pelaku maupun korban penganiayaan. ''Kejadiannya sudah lama, sekitar empat bulan lalu. Tetapi, lebih jelasnya lain hari saja bisa klarifikasi ke Wakasek kesiswaan (Hermanto) langsung, biar beliau yang menjelaskan,'' kata guru asal Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jetis, itu.

Koran ini juga tidak berhasil menemui kepala sekolah (Kasek). Menurut Samsul Hadi, kemarin siang Kasek sedang ada tugas di luar, mendatangi Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto. ''Bapak Kasek tidak ada di sekolah, tadi (kemarin) pamitnya ke dinas,'' lanjut Samsul. (ris/abi/JPNN/c23/bh)