Bisnis Cuci Sepatu Datangkan Omzet Puluhan Juta

Bisnis Cuci Sepatu Datangkan Omzet Puluhan Juta - Belakangan ini, jasa cuci sepatu menjadi perbincangan yang hangat di kalangan anak muda. Khususnya ketika tren sepatu sneaker/running mulai muncul kembali ke permukaan di medio tahun 2014. Terlihat dari munculnya sejumlah komunitas lari di bilangan Jakarta maupun Bandung.

Momen ini ternyata membuka peluang bagi sejumlah orang untuk membuka bisnis jasa cuci sepatu. Dian Maya (27) CEO dari Shoe Bible yang bermarkas di Pasar Santa ini bercerita bahwa ia mencium peluang bisnis ini ketika salah satu sepatunya rusak akibat dimasukkan ke laundry umum.

"Sepatu saya kan banyak dengan bentuk yang beragam. Lalu saya masukkin ke laundry baju. Kemudian ada satu sepatu yang spesifik jadi rusak. Akhirnya cari tahu cara bersihin sepatu seperti apa," jelas Dian yang bersama 2 orang temannya mendirikan Shoe Bible sejak Oktober 2014 lalu, dikutip dari Kompas.com.

Menurut Dian, membersihkan sepatu tidak bisa disamakan dengan mencuci baju. Karena mulai dari sabun hingga sikat harus mempunyai spesifikasi khusus. "Sepatu itu luar biasa kompleksnya, ada bagian yang kecil itu bersihinnya pakai sikat yang kecil, bisa pakai 3 sikat yang berbeda, dan dilap dengan microfibre towel, dan waktu pengerjaannya makan waktu yang cukup lama," jelas Dian.

Hal ini senada dengan perkataan salah satu pemilik jasa usaha cuci sepatu Sneaklin, yaitu Brian Pattipeilohy (25) bahwa tidak semua bagian dari sepatu boleh disikat. "Saat lo nyikat sepatu banyak yang enggak bisa disikat. Bahkan ada yang enggak bisa lo sikat ke kiri lalu ke kanan. Dari teknik pencuciannya juga beda," kata Brian yang juga bersama kedua temannya memulai bisnis ini sejak Maret tahun lalu.

Omzet Bak Durian Runtuh
Bak durian jatuh, keduanya mengaku respon dan hasil yang diperoleh mereka melebih ekspektasi. Dalam sebulan mereka bisa menerima 300 sepatu dengan rata-rata harga jasa cuci per sepatu Rp 85.000 atau jika di total bisa mencapai Rp 25 juta per bulan.

"It's beyond everybody expectation. Kita ga nyangka akan secepat ini pertumbuhannya. Bisa 350 pasang sebulan dikali rata-rata harga jasa Rp 70.000 dan itu belum termasuk dari penjualan sabun swasher dan cleaning kit dari Shoe Bible," jelas Dian.

Sementara untuk Sneaklin sendiri tidak jauh berbeda. Menurut Brian, dalam sehari mereka bisa menerima 10 sepatu dalam 1 outlet. Saat ini mereka (Sneaklin) mempunya 4 outlet yang sebagian besar buka setiap hari. "Pertama ga ekspektasi bakal rame, selama satu bulan ternyata bisa 10-15 sepatu sehari. Sekarang jumlah sepatu per bulan di 1 outlet rata-rata 250 sepatu. Saat ini Sneaklin punya outlet di Bandung, Senopati, Pondok Indah, dan di sini (Pasar Santa)," jelas Brian.

Konsumen awam
Salah satu kendala dalam bisnis mencuci ini antara lain konsumen yang masih kurang percaya kepada produk lokal.

"Kadang banyak yang membandingkan dengan sabun impor. Banyak yang lebih percaya barang mahal dan internasional. Tapi seiring berjalannya waktu lama-lama mereka percaya juga dengan sabun produksi kita," kata Dian.

Selain itu menurut Brian, kendala lainnya adalah meyakinkan konsumen bahwa mencuci sepatu tidak bisa instan. Menurut dia, banyak konsumen yang meminta selesai dalam jangka waktu yang singkat. Padahal, kata dia, waktu adalah aspek penting dalam pembersihan sepatu.

"Komunikasi sama customer paling berat, banyak yang naruh sepatu 3 hari minta selesai. Soalnya waktu itu ngaruh banget, terlalu cepat hasilnya gak akan se-perfect kalau tidak terburu-buru," jelas Brian.

Meski demikian keduanya optimistis, bisnis jasa cuci sepatu masih akan terus berkembang. Pasalnya, menurut Dian, selain tren sneaker yang masih digemari konsumen, daya beli masyarakat terhadap sepatu juga makin besar.

"Sneaker ini masih naik animonya, bahkan runway di Eropa dan Amerika Serikat pakai sneaker. Apalagi sekarang beli sepatu bisa perbulan orang, tidak seperti dulu kalau beli cuma pada waktu tertentu saja misalkan lebaran atau masuk sekolah," jelas Dian.